Pages

Navigation Menu

Cap Go Meh


Capgomeh adalah hari ke 15 setelah Tahun Baru Tionghoa alias Imlek, yang menandai berakhirnya perayaan Imlek tersebut


Perayaan Cap Go Meh di Pekalongan biasanya mengadakan karnaval atau kirab dimana masyarakat akan mengarak Dewa-Dewa nya dalam rumah yang disebut Topekong, disertai pula dengan Barongsai dan Liong, Grup Buddha, SunGoKong, Patkay, serta diiringi alunan musik khas China... Masyarakat China lainnya biasanya menyediakan makanan dan minuman serta Angpau yang diletakkan di atap rumah untuk kemudian para barongsai yang akan mengambilnya.






Menjelajah Pekalongan dengan Ojek Pariwisata


KEBERADAAN OJEK MONTOR berbasis aplikasi semakin dikenal luas oleh masyarakat di berbagai kota. Layanan ojek online itu kini juga bisa ditemukan di Kota Pekalongan. Adalah anggota klub motor di Kota Pekalongan yang menginisiasi layanan ojek online tersebut dengan nama Rangga Pro Wisata. Rangga merupakan akronim dari Orang G-A. G-A adalah kode nomor kendaraan untuk Kota Pekalongan. Inisiator Rangga Pro Wisata, Mamik Slamet Kertoraharjo menjelaskan, Rangga Pro Wisata hampir sama dengan layanan ojek online di sejumlah kota. Hanya saja, sesuai namanya, Rangga Pro Wisata hanya melayani wisatawan yang akan berkunjung ke sejumlah objek wisata di Kota Pekalongan dan sekitarnya. ‘‘Kami sama seperti ojek konvensional, tapi fokus ke pariwisata. Kami akan mengantarkan wisatawan ke sejumlah tempat wisata, kuliner, pusat perbelanjaan dan lainnya,” terangnya saat mengantarkan Penjabat Wali Kota Pekalongan Prijo Anggoro Budi Rahardjo berwisata kuliner di Rumah Makan Pande Rasa, Senin (25/1). Ada 21 pengojek yang siap mengantarkan wisatawan menjelajahi objek wisata di Kota Pekalongan.

Mereka berasal dari berbagai komunitas motor. Ada tiga komunitas motor yang bergabung dengan Rangga Pro Wisata ini, yakni komunitas motor Xeon, Jupiter dan Mio. ‘‘Kami ingin menjadi bagian dari pelaku pariwisata di Kota Pekalongan. Daripada hanya kongkow, kopi darat dengan pengguna motor lainnya, lebih baik bergabung ke Rangga yang lebih bermanfaat,‘‘ jelasnya. Menurut Mamik, Rangga Pro Wisata yang beroperasi sejak awal tahun ini tidak menggunakan aplikasi khusus. Sistem pemesannya, kata dia, melalui hotel-hotel yang ada di Kota Pekalongan. Saat ini, pihaknya bekerja sama dengan 20 hotel. Namun pihaknya akan mengembangkan sistem pemesanan yang mudah diakses, misalnya melalui layanan BBM (BlackBerry Messenger), WA (whatsapp), atau nomor telepon. ‘‘Mana yang memudahkan pelanggan, bisa diakses,‘‘ tambahnya. Sementara itu, untuk tarifnya berdasarkan pada paket perjalanan. Ada lima paket perjalanan yang ditawarkan, yakni paket Aselama delapan jam tarifnya Rp 200.000, paket B atau empat jam tarifnya Rp 100.000 dan paket C atau dua jam tarifnya Rp 50.000. Adapun paket D atau satu jam tarifnya Rp 25.000 dan paket E sekali jalan tarifnya Rp 20.000. Pengojek yang tergabung dalam Rangga Pro Wisata ini sudah diberikan pembekalan pengetahuan terkait wisata. ‘‘Ada 161 rumah industri batik yang bisa menjadi referensi mengantarkan penumpang,” jelasnya. Salah seorang pengojek, Lisin Muhammad mengaku tertarik bergabung dengan Rangga Pro Wisata karena ingin ikut berkontribusi memajukan pariwisata di Kota Pekalongan. ‘‘Dulu, saat kumpul dengan teman-teman kami sering ngobrol, Pekalongan ada tempat wisata, tapi tamunya bingung. Bagaimana ya caranya untuk mempromosikan pariwisata Kota Pekalongan itu,‘‘ terangnya. Selain itu, untuk menambah penghasilan keluarga. Sehari-hari, Lisin Muhammad berdagang kerudung di rumah dan di pasar tiban. “Daripada cuma nongkrong di pinggir jalan, lebih baik mengojek seperti ini bisa buat tambah penghasilan. Lumayan, buat tambah- tambah penghasilan,” kata anggota Komunitas Moka ?(Mio Kota Pekalongan) itu. Sejak bergabung dengan Rangga Pro Wisata, warga Kelurahan Kuripan Yosorejo tersebut setiap hari selalu membawa dua helm untuk antisipasi apabila ada permintaan untuk mengantas wisatawan. Sementara itu, Wali Kota mengaku senang karena hadirnya ojek pariwisata tersebut dapat mewarnai Kota Pekalongan sebagai kota jasa, dagang dan pariwisata. Ia berharap ojek pariwisata dapat mudah diakses bagi siapa pun tanpa membedakan pengguna jasa menginap di hotel atau tidak. ‘‘Kalau bisa nanti pesan ojeknya tidak hanya lewat hotel. Karena belum tentu yang menggunakan jasa ojek itu yang menginap di hotel,” harapnya. Selain itu, ia juga meminta kepada pengojek untuk cepat dalam melayani konsumen dan memberikan pelayanan yang sopan dan ramah, sehingga membuat konsumen nyaman. “Sedia jas hujan agar penumpang tidak kehujanan,‘‘ tambahnya.

Indonesia Raih Tiga Penghargaan Pariwisata Halal

Akhirnya Indonesia meraih tiga penghargaan di World Halal Travel Summit and Exhibition 2015 yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 19-21 Oktober 2015. Ketiga penghargaan tersebut ialah World's Best Family Friendly Hotel dimenangkan oleh Sofyan Hotel Betawi Jakarta, World's Best Halal Honeymoon Destination dan World's Best Tourism Destination yang dimenangkan Lombok.

"Kita berhasil mengalahkan Malaysia," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam Jumpa Pers "Indonesia Sabet 3 Penghargaan di World Halal Travel Summit 2015", di Jakarta, Rabu (21/10/2015). Sofyan Hotel Jakarta menang mengalahkan Gloria Hotel Dubai dan Landmark Hotel Dubai. Sementara untuk World's Best Honeymoon Destinantion, Lombok-Indonesia menang mengalahkan Abu Dhabi-Uni Emirat Arab, Antalya-Turki, Krabi-Thailand, dan Kuala Lumpur-Malaysia. Lalu untuk gelar World's Best Halal Tourism Destination Lombok-Indonesia berhasil mengalahkan Abu Dhabi, Amman-Jordan, Antalya-Turki, Kairo-Mesir, Dogo-Qatar, Istanbul-Turki, Kuala Lumpur-Malaysia, Marrakech-Moroko, dan Tehran-Iran. https://instagram.com/p/9GVXaJHVcQ/ Ada empat belas kategori yang disediakan, dan Indonesia berhasil menjadi nominasi di lima kategori: World's Best Family Friendly Hotel, World's Best Cultural Destinantion, World's Best Colinery Destination, World's Best Halal Honeymoon Destination, dan World's Best Halal Tourism Destinantion. Dari lima ini Indonesia berhasil menang dalam tiga kategori. World Halal Travel Summit 2015 and Expo 2015 sendiri adalah pertemuan business to business (B2B) terbesar antar spesialis wisata halal di dunia. Acara terdiri dari pameran, seminar, dan malam penghargaan. Sistem perlombaan penghargaan sendiri menggunakan sistem voting. tribunnews.com

Indonesia Borong Gelar di Ajang Penghargaan Pariwisata PBB



Pariwisata Indonesia terus menerus meraih prestasi. Setelah diberitakan bahwa Indonesia mendapat tiga nominasi dalam inovasi pariwisata United Nation World Tourism Organization (UNWTO) Awards for Exellence and Innovation Tourism yang ke-12 akhir tahun lalu. Hari ini diberitakan bahwa Indonesia membawa pulang tiga gelar dalam ajang penghargaan tersebut.


Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya bahwa Indonesia mendapat nominasi dalam tiga bidang kategori yakni Award in Innovation in Public Policy and Governance yang diwakili oleh Pemkab Banyuwangi dengan inovasi penggunaan sistem informasi dalam bidang kepariwisataan dan tata kelola; Innovation in Enterprises  yang diwakili oleh Garuda Indonesia dengan programnya yang bernama Bali Beach Clean Up. Progam ini merupakan bentuk kepedulian Garuda Indonesia terhadap kebersihan pantai-pantai di Bali; Innovation in Non-Governmental Organizations yang diwakili oleh yayasan Karang Lestari dengan program Coral Reef Reborn. Sebuah program yang mengupayakan pelestarian kembali karang-karang yang rusak dan memperbaiki ekosistem laut di beberapa perairan Indonesia.

Ketiga wakil Indonesia tersebut berdasarkan berita yang didapatkan GNFI dari Kementrian Pariwisata pagi ini (20/01/2016 waktu Madrid, Spanyol), akhirnya membawa pulang penghargaan di kategorinya masing-masing. Garuda Indonesia dan Yayasan Karang Lestari diganjar sebagai pemenang first Runner-up atas programnya masing-masing dan Pemkab Banyuwangi berhasil membawa pulang penghargaan The winner of the UNWTO Award in Innovation in Public Policy and Governance

Hasil dari The 12th United Nations - World Tourism Organization (UNWTO) Awards yang diumumkan subuh tadi WIB atau 20/01/2016 malam waktu Spanyol saat Gala Ceremony The 12th UNWTO Awards di Madrid, sebagai berikut: 1. The winner of the UNWTO Award in Innovation in Public Policy and Governance Culture and Tourism Banyuwangi Regency Office – INDONESIA 2. The first runner up of the UNWTO Award for Innovation in Enterprises Garuda Indonesia and coca cola amatil Bali Beach Clean-up – INDONESIA 3. The first runner up of the UNWTO Award for Innovation in Non-Governmental Organizations Yayasan Karang Lestari - Coral Reef Reborn Pemuteran, Bali– INDONESIA Nilai tambah lainnya, Pariwisata Indonesia unggul, dimana dari 4 Kategori Awards UNWTO yang ada; Indonesia menempatkan wakil di 3 Kategori, 2 kategori menjadi The 1st Runner Up, dan MENJUARAI 1 Kategori. Lebih lanjut, berikut detail Negara Pemenang The 12th UNWTO Awards lainnya: Inovasi kebijakan publik: 1. Indonesia (Banyuwangi) 2. Medellin, Colombia. 3. Puertorico Kategori enterprises: 1. Lithuania 2. Indonesia (Garuda) 3.Switzerland Kategori NGO: 1. Nepal 2. Indonesia (bali) 3.Kamboja Salam Wonderful Indonesia! #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia (http://www.goodnewsfromindonesia.org)

Pekalongan Akan Miliki Pusat Informasi Wisatawan


PEKALONGAN- Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan akan memiliki pusat informasi bagi wisatawan atau Tourist Information Center (TIC). Keberadaan TIC sangat penting sebagai sarana promosi dan informasi bagi wisatawan yang datang ke Kota Pekalongan.
Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata dan Kebudayaan (Dishubparbud) Kota Pekalongan Doyo Budi Wibowo menjelaskan, TIC yang menempati eks kantor Inspektorat Kota Pekalongan itu akan segera diluncurkan,” terang Doyo di ruang kerjanya, Selasa(12/1).
Dijelaskan dia, TIC akan memberikan informasi tentang pariwisata di Kota Pekalongan. Informasi tersebut meliputi objek wisata, akomodasi dan transportasi serta potensi pariwisata unggulan yang ada di Kota Pekalongan. Selain itu juga objek wisata di daerah-daerah di sekitar Kota Pekalongan dan di Jawa Tengah.
Menurut dia, ikon Kota Pekalongan adalah batik. Namun Informasi pariwisata yang nantinya akan disampaikan di TIC tidak hanya objek wisata terkait batik seperti halnya Museum Batik. Tetapi juga objek wisata lainnya. Misalnya Pekalongan Mangrove Park. “Saati ni, kami tengah memperbaiki objek dan destinasi baru. Salah satunya kawasan Jetayu. Sesuai tata ruang, Kawasan Jetayu akan direvitalisasi sebagai kawasan budaya,”sambungnya.
Terkait persiapan TIC, saat ini Dishubparbud Kota Pekalongan masih mempersiapkan sumber daya manusia (SDM). Selain itu juga Perlengkapan lainnya seperti meja kursi dan tempat untuk leaflet dan brosur yang bisa dibawa pulang.
Nantinya, lanjut dia, secara bertahap kebutuhan tersebut akan disempurnakan. Sementara itu, untuk SDM, nanti akan diberdayakan SDM yang di Bidang Pariwisata Dishubparbud Kota Pekalongan. Ada dua orang yang menguasai Bahasa Inggris yang nantinya akan ditempatkan di sana (K30-34)
(Sumber : Suara Merdeka, 13-01-2016)

Grosir Batik Setono


Batik Pekalongan termasuk batik pesisir yang paling kaya akan warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis. Jika dibanding dengan batik pesisir lainnya Batik Pekalongan ini sangat dipengaruhi pendatang keturunan China dan Belanda. Motif Batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya terkadang sama dengan batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis. Motif yang paling populer di dan terkenal dari pekalongan adalah motif batik Jlamprang.

Batik Pekalongan banyak dipasarkan hingga ke daerah luar jawa, diantaranya Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Minahasa, hingga Makassar. Biasanya pedagang batik di daerah ini memesan motif yang sesuai dengan selera dan adat daerah masing-masing.

Keistimewaan Batik Pekalongan adalah, para pembatiknya selalu mengikuti perkembangan jaman . Misalnya pada waktu penjajahan Jepang, maka lahir batik dengan nama’Batik Jawa Hokokai’,yaitu batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang. Pada umumnya batik jawa hokokai ini merupakan batik pagi-sore. Pada tahun enampuluhan juga diciptakan batik dengan nama tritura. Bahkan pada tahun 2005, sesaat setelah presiden SBY diangkat muncul batik dengan motif ‘SBY’ yaitu motif batik yang mirip dengankain tenun ikat atau songket. Motif yang cukup populer akhir-akhir ini adalah motif Tsunami. Memang orang Pekalongan tidak pernah kehabisan ide untuk membuat kreasi motif batik.

Kampung ATBM Medono Kota Pekalongan


PEKALONGAN – Kelurahan Medono, Kecamatan Pekalongan Barat, dikenal sebagai pusat kerajinan tenun tangan. Pada masala lalu, menurut Lurah Medono, Sumaryo, tenun Medono pernah meraih kejayaan kualitas dan kuantitas produksi, dan penjualannya.
Kejayaan itu terjadi pada 20-30 tahun lalu. Upaya untuk meraih kejayaan kembali, pengusaha tenun di sini bersepakat membentuk kampung ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) Medono,” kata Sumaryo, senin (24/2).
Ekspor Produk


Seiring perjalanan waktu dan dukungan dari pemerintah kota, lanjut dia, kejayaan yang pernah pudar itu berhasil direngkuh kembali. Pengusaha tenun mulai meningkatkan produksi, kreativitas dan kualitas. “Tenun produksi Medono berani bersaing jika disandingkan dengan tenun dari kabupaten/kota lain. Kain tenun Medono kini juga sangat diminati konsumen,” imbuh Sumaryo.
Dikatakan lebih lanjut, tenun ATBM Medono menyesuaikan dengan ikon Pekalongan sebagai kota batik, kain tenun tangan hasil produksi bermotif batik. Di beberapa industri ATBM Medono, tenun yang dihasilkan sama-sama halus. Motif batik Medono juga beragam serta harga relatif terjangkau.

Salah satu pengusaha tenun tangan Medono, Tati menjelaskan, pihaknya sudah pernah mengekspor produk-produknya ke luar negeri. Hal ini merupakan bukti bahwa kejayaan produksi tenun Medono kembali diraih. Dalam memproduksi selembar kain tenun tangan, lanjutnya, perajin membutuhkan waktu rata-rata selama satu pekan. (K40-74)
 
(SUMBER : SUARA MERDEKA, 25-02-2014)

Popular Posts