Pages

Navigation Menu

Tampilkan postingan dengan label featured. Tampilkan semua postingan

Badan Promosi incar 4 event besar


KOTA – Badan Promosi Pariwisata Kota Pekalongan (BP2KP)langsung bergerak untuk mempromosikan pariwisata Kota Pekalongan. Selama tahun 2016, setidaknya ada empat event besar yang diincar BP2KP, baik sebagai ajang promosi maupun ikut terlibat di dalamnya untuk menggelar acara yang dapat menarik wisatawan.
Empat event tersebut diantaranya, menggelar kegiatan lomba handling tray competition atau lomba membawa nampan sambil berjalan yang akan disisipkan dalam momen HUT Kota Pekalongan, 1 April mendatang. Kemudian BP2KP juga akan ikut serta dalam Gebyar Wisata dan Budaya Nusatara di Jakarta pada bulan Mei.
Event selanjutnya yang akan dimanfaatkan BP2KP untuk promosi pariwisata Kota pekalongan yaitu table top yaitu pertemuan pengusaha wisata yang akan dilaksanakan di Pemalang. BP2KP juga akan memanfaatkan momentum Hari Batik Nasional untuk menggelar event festival batik demi memeriahkan momentum tersebut.
Rangkaian jadwal kegiatan BP2KP itu, dipaparkan saat audiensi dengan Pj Walikota Pekalongan, Prijo Anggoro BR, Senin (25/1) di Ruang Kerja Walikota.
Ketua BP2KP, Cucut Suranto mengatakan, BP2Kp akan mencoba menambah dan meciptakan kegiatan-kegiatan baru demi mendongkrak pariwisata Kota Pekalongan. “Kami akan menambah, dan menciptakan kegiatan-kegiatan agar lebih promotif. Sehingga nantinya bisa menjaring kedatangan wisatawan lebih banyak lagi,” kata dia.
Tidak hanya membuat event-event menarik, BP2KP juga akan bekerjasama dengan sejumlah travel agent. Salah satunya BP2KP sudah berkomunikasi dengan Asosiasi Biro Perjalanan Indonesia (ASITA) Kota Semarang untuk membawa wisatawan mancanegara yang datang dengan kapal pesiar untuk berkunjung ke Kota Pekalongan.
Selama ini, kata dia, wisatawan dengan kapal pesir yang singgah di Pelabuhan Tanjung Emas, Kota Semarang berwisata di Candi Borobudur. “Harapan kami, wisatawan dengan kapal pesiar nanti bisa didatangkan ke Kota Pekalongan,” harapnya.
Cucut menambahkan, nantinya BP2KP Kota Pekalongan juga akan melakukan roadshow ke sejumlah kota untuk memperkenalkan potensi pariwisata di Kota Pekalongan. Diantaranya yang menjadi target adalah Jakarta.
Menurut dia, Jakarta sangat potensial karena masyarakat disana sudah jenuh dengan berbagai destinasi wisata yang sudah ada seperti Puncak, Bogor, maupun Bandung. “Kami akan manfaatkan situasi itu, dan menawarkan Kota Pekalongan menjadi salah satu tujuan wisata baru,” kata dia.
Untuk menyambut wisatawan yang berkunjung ke Kota Pekalongan, BP2KP telah menyiapkan sarana akomodasi. Diantaranya layanan ojek pariwisata, dan becak wisata di Stasiun Pekalongan. “Mereka adalah penyambung lidah yang akan menunjukkan tempat-tempat yang bisa didatangi wisatawan. Karena itu, kami akan membina tukang becak yang ada di Stasiun Pekalongan. Mereka akan kami didik, dan beri seragam. Minimal nanti dikursuskan Bahasa Inggris, sehingga mereka siap ketika ada wisatawan mancanegara,” paparnya.
Pj Walikota, menyambut baik rencana yang akan dilakukan oleh BP2KP tersebut. “Kalau dilaksanakan secara matang, ini bagus sekali. Saya sangat mendukung karena di sini butuh momentum, butuh hiburan,” terangnya.
Namun ia berpesan kepada BP2KP Kota Pekalongan untuk menyiapkan obyek wisata, kuliner, hotel dan fasilitas transportasi. “Setelah tiba di Kota Pekalongan, mau dibawa kulineran dimana? Lalu berkunjung ke IKM mana, ke hotel mana? Ini harus disiapkan,” pesan dia.(nul)
(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 26-01-2016)

Indonesia Raih Tiga Penghargaan Pariwisata Halal

Akhirnya Indonesia meraih tiga penghargaan di World Halal Travel Summit and Exhibition 2015 yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 19-21 Oktober 2015. Ketiga penghargaan tersebut ialah World's Best Family Friendly Hotel dimenangkan oleh Sofyan Hotel Betawi Jakarta, World's Best Halal Honeymoon Destination dan World's Best Tourism Destination yang dimenangkan Lombok.

"Kita berhasil mengalahkan Malaysia," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam Jumpa Pers "Indonesia Sabet 3 Penghargaan di World Halal Travel Summit 2015", di Jakarta, Rabu (21/10/2015). Sofyan Hotel Jakarta menang mengalahkan Gloria Hotel Dubai dan Landmark Hotel Dubai. Sementara untuk World's Best Honeymoon Destinantion, Lombok-Indonesia menang mengalahkan Abu Dhabi-Uni Emirat Arab, Antalya-Turki, Krabi-Thailand, dan Kuala Lumpur-Malaysia. Lalu untuk gelar World's Best Halal Tourism Destination Lombok-Indonesia berhasil mengalahkan Abu Dhabi, Amman-Jordan, Antalya-Turki, Kairo-Mesir, Dogo-Qatar, Istanbul-Turki, Kuala Lumpur-Malaysia, Marrakech-Moroko, dan Tehran-Iran. https://instagram.com/p/9GVXaJHVcQ/ Ada empat belas kategori yang disediakan, dan Indonesia berhasil menjadi nominasi di lima kategori: World's Best Family Friendly Hotel, World's Best Cultural Destinantion, World's Best Colinery Destination, World's Best Halal Honeymoon Destination, dan World's Best Halal Tourism Destinantion. Dari lima ini Indonesia berhasil menang dalam tiga kategori. World Halal Travel Summit 2015 and Expo 2015 sendiri adalah pertemuan business to business (B2B) terbesar antar spesialis wisata halal di dunia. Acara terdiri dari pameran, seminar, dan malam penghargaan. Sistem perlombaan penghargaan sendiri menggunakan sistem voting. tribunnews.com

Indonesia Borong Gelar di Ajang Penghargaan Pariwisata PBB



Pariwisata Indonesia terus menerus meraih prestasi. Setelah diberitakan bahwa Indonesia mendapat tiga nominasi dalam inovasi pariwisata United Nation World Tourism Organization (UNWTO) Awards for Exellence and Innovation Tourism yang ke-12 akhir tahun lalu. Hari ini diberitakan bahwa Indonesia membawa pulang tiga gelar dalam ajang penghargaan tersebut.


Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya bahwa Indonesia mendapat nominasi dalam tiga bidang kategori yakni Award in Innovation in Public Policy and Governance yang diwakili oleh Pemkab Banyuwangi dengan inovasi penggunaan sistem informasi dalam bidang kepariwisataan dan tata kelola; Innovation in Enterprises  yang diwakili oleh Garuda Indonesia dengan programnya yang bernama Bali Beach Clean Up. Progam ini merupakan bentuk kepedulian Garuda Indonesia terhadap kebersihan pantai-pantai di Bali; Innovation in Non-Governmental Organizations yang diwakili oleh yayasan Karang Lestari dengan program Coral Reef Reborn. Sebuah program yang mengupayakan pelestarian kembali karang-karang yang rusak dan memperbaiki ekosistem laut di beberapa perairan Indonesia.

Ketiga wakil Indonesia tersebut berdasarkan berita yang didapatkan GNFI dari Kementrian Pariwisata pagi ini (20/01/2016 waktu Madrid, Spanyol), akhirnya membawa pulang penghargaan di kategorinya masing-masing. Garuda Indonesia dan Yayasan Karang Lestari diganjar sebagai pemenang first Runner-up atas programnya masing-masing dan Pemkab Banyuwangi berhasil membawa pulang penghargaan The winner of the UNWTO Award in Innovation in Public Policy and Governance

Hasil dari The 12th United Nations - World Tourism Organization (UNWTO) Awards yang diumumkan subuh tadi WIB atau 20/01/2016 malam waktu Spanyol saat Gala Ceremony The 12th UNWTO Awards di Madrid, sebagai berikut: 1. The winner of the UNWTO Award in Innovation in Public Policy and Governance Culture and Tourism Banyuwangi Regency Office – INDONESIA 2. The first runner up of the UNWTO Award for Innovation in Enterprises Garuda Indonesia and coca cola amatil Bali Beach Clean-up – INDONESIA 3. The first runner up of the UNWTO Award for Innovation in Non-Governmental Organizations Yayasan Karang Lestari - Coral Reef Reborn Pemuteran, Bali– INDONESIA Nilai tambah lainnya, Pariwisata Indonesia unggul, dimana dari 4 Kategori Awards UNWTO yang ada; Indonesia menempatkan wakil di 3 Kategori, 2 kategori menjadi The 1st Runner Up, dan MENJUARAI 1 Kategori. Lebih lanjut, berikut detail Negara Pemenang The 12th UNWTO Awards lainnya: Inovasi kebijakan publik: 1. Indonesia (Banyuwangi) 2. Medellin, Colombia. 3. Puertorico Kategori enterprises: 1. Lithuania 2. Indonesia (Garuda) 3.Switzerland Kategori NGO: 1. Nepal 2. Indonesia (bali) 3.Kamboja Salam Wonderful Indonesia! #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia (http://www.goodnewsfromindonesia.org)

Pekalongan Akan Miliki Pusat Informasi Wisatawan


PEKALONGAN- Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan akan memiliki pusat informasi bagi wisatawan atau Tourist Information Center (TIC). Keberadaan TIC sangat penting sebagai sarana promosi dan informasi bagi wisatawan yang datang ke Kota Pekalongan.
Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata dan Kebudayaan (Dishubparbud) Kota Pekalongan Doyo Budi Wibowo menjelaskan, TIC yang menempati eks kantor Inspektorat Kota Pekalongan itu akan segera diluncurkan,” terang Doyo di ruang kerjanya, Selasa(12/1).
Dijelaskan dia, TIC akan memberikan informasi tentang pariwisata di Kota Pekalongan. Informasi tersebut meliputi objek wisata, akomodasi dan transportasi serta potensi pariwisata unggulan yang ada di Kota Pekalongan. Selain itu juga objek wisata di daerah-daerah di sekitar Kota Pekalongan dan di Jawa Tengah.
Menurut dia, ikon Kota Pekalongan adalah batik. Namun Informasi pariwisata yang nantinya akan disampaikan di TIC tidak hanya objek wisata terkait batik seperti halnya Museum Batik. Tetapi juga objek wisata lainnya. Misalnya Pekalongan Mangrove Park. “Saati ni, kami tengah memperbaiki objek dan destinasi baru. Salah satunya kawasan Jetayu. Sesuai tata ruang, Kawasan Jetayu akan direvitalisasi sebagai kawasan budaya,”sambungnya.
Terkait persiapan TIC, saat ini Dishubparbud Kota Pekalongan masih mempersiapkan sumber daya manusia (SDM). Selain itu juga Perlengkapan lainnya seperti meja kursi dan tempat untuk leaflet dan brosur yang bisa dibawa pulang.
Nantinya, lanjut dia, secara bertahap kebutuhan tersebut akan disempurnakan. Sementara itu, untuk SDM, nanti akan diberdayakan SDM yang di Bidang Pariwisata Dishubparbud Kota Pekalongan. Ada dua orang yang menguasai Bahasa Inggris yang nantinya akan ditempatkan di sana (K30-34)
(Sumber : Suara Merdeka, 13-01-2016)

Pekalongan: The city of batik and more

The north coast of Java is dotted with old trading towns that are often overlooked by visitors to Indonesia.
One such town is Pekalongan in Central Java, known as the Batik City and home to some of Indonesia’s most sought-after batik.

Situated midway between Semarang and Surabaya, Pekalongan is a outstation of old Javanese charm mixed with cultures brought by traders in the 17th century — Arabs, Peranakan Chinese and the Dutch.

Every street seems to support a community of becak (three-wheeled pedicabs) drivers and street-food sellers, while tourists are still a rarity in this ethnically diverse city.

Not only had I never been to Pekalongan in my 20 years in Java, but going there was also an excuse to take the train — something I hadn’t attempted for a decade.

I have to say I was impressed; not only is it effortless to book tickets online and collect them at the station, but the long-distance executive trains run on time, are clean and comfortable and come complete with transportation police who keep a beady eye on travellers.

Pekalongan is first mentioned in chronicles dating back to the 12th century, when Chinese merchants of the Song dynasty first made contact and knew the city as Pukalong.

They describe the “King of Java” as living there and the local people wrapping their bodies in colorful woven cloth. This seems to confirm that the people of Pukalong were already making batik fabrics back in the 12th century.

Apparently, Pukalong was also reputed for its coconut wine. It’s a shame they have lost that tradition today; modern Pekalongan is a dry city, where the sale of alcohol is forbidden.

The Dutch East India Company, the VOC, arrived in the early 17th century and started to exploit Pekalongan for its agricultural products, focusing on sugar production, which later expanded into a major industry in the 19th century.

To subdue the natives the VOC built a large fort in the city in 1753, which still stands today. Being a fan of Dutch forts, I was keen to have a look, but when I located the building it turned out to be a fully functioning penitentiary.
Come in: An attractive front shop is seen in the Chinese quarter of Pekalongan.
Come in: An attractive front shop is seen in the Chinese quarter of Pekalongan.
More recently, Pekalongan was declared not only Indonesia’s but also Southeast Asia’s first member of UNESCO’s World’s Creative Cities Network in 2014. This came in the wake of the important role of Pekalongan’s batik museum in helping to obtain UNESCO certification for Indonesian batik.

Getting around Pekalongan is a real pleasure. The traffic is light and there is an army of becak drivers to choose from. The city center is so small that you can go almost anywhere for around Rp 15,000.

One of the most important places to visit is the Pekalongan Batik Museum, housed in a colonial-era Dutch building overlooking a square shared with the colonial governor’s old palace.

Opened by then President Susilo Bambang Yudoyono in 2006, the museum houses a truly stunning collection of batik, not only from Pekalongan but from all over Indonesia. The exhibits are all well labelled, with the designs and origins explained in both English and Indonesian.

The museum also contains a workshop where batik enthusiasts can try their hand at the art of batik-making. It helps to have a very steady hand.

The old center of the city contains several kampong (small village communities) where the traditional hand-made small-scale batik workshops are found. In fact, printed-batik factories are not allowed to operate in the old city.

It’s best to go with a guide who knows their way around and is friendly with some of the small factories. This is the best way to see and learn about the art of batik-making.

Pekalongan batik tends to be more colorful and lively than the more formal batik designs found in Surakarta and Yogyakarta, partly thanks to the invigoration of the designs and colors brought by a Dutch woman, Eliza van Zuylen, in the mid-19th century.

Other sites that are worth checking out in Pekalongan include the lively market with its vendors of fresh goods from outside the city and the alun-alun town square that is overlooked by the oldest mosque in the city, Jami Yasmaja Mosque. Not far from the market is the old Chinese quarter with distinctively roofed terraced shop-houses and an ornate red temple.

Pekalongan is also a paradise for those who can’t resist indulging in traditional street food.

One of the best places to go is the Chinese quarter. One great spot located on the pavement of Jl. Hasanuddin is Nasi Gudeg Ibu Sri serving a local version of the Javanese dish. Not far away there are kaki-lima vendors of bubur kacang hijau (mung bean porridge) and ketan hitam (black sticky rice). If you like crab, head for Kepiting Gemes Bung Kombor on Jl. Blimbing.

The city is hardly well-endowed with hotels, there being only about a dozen or so. By far the best is The Sidji Hotel (sidji means “one” in Javanese), a new centrally located, family-run boutique hotel added to the back of a traditional Dutch-era house, circa 1920. The hotel also has one of the best restaurants in town, together with its own batik store.

So, if you’re at a loose end one weekend, escape into the depths of traditional Java and visit Pekalongan. Now’s a good time to go: plans are afoot to construct a mega-power station in the near future, and change will come rapidly once construction starts.
Home of batik: Visitor views batik on display at the Pekalongan Batik Museum.
Home of batik: Visitor views batik on display at the Pekalongan Batik Museum.
- See more at: http://m.thejakartapost.com/news/2016/01/15/pekalongan-the-city-batik-and-more.html#sthash.PKuGFmS8.dpuf

Pemkot Pekalongan Meriahkan Hari Nusantara dan Sedekah Laut 2015


Pekalongan, Informasi Publik - Dalam memeriahkan hari Nusantara dan Sedekah Laut 2015, Pemerintah Kota Pekalongan gelar serangkaian acara di kawasan wisata Bahari dan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP), Jumat (11/12). acara tersebut meliputi bersih-bersih pantai, pasar murah, lomba mewarnai.
Kabag Perekonomian Setda kota Pekalongan, Setyo Susilo menjelaskan bahwa pemerintah kota Pekalongan menggelar Bazar Pasar Murah di dua titik, yaitu di depan PPNP dan di depan KUD Makaryo Mino Krapyak. ia menjelaskan bahwa sekitar 7 ton beras dijual dalam bazar pasar murah tersebut. "kami menyediakan 1.400 kupon untuk warga yang hendak berbelanja dalam pasar murah ini," katanya.
ia menjelaskan secara rinci bahan-bahan pokok yang disediakan dibandrol dengan harga dibawah  pasaran. Beras kantong kualitas bagus berat 5 kilogram dengan harga normal di pasar 51.000 Rupiah dijual dengan harga 44.000 Rupiah. Gula harga normal 12.000 rupiah per kilogram  dijual 10.500 rupiah per kilogram, minyak Goreng  harga normal 12.500 rupiah per kilogram dijual dengan harga 11.000 rupiah per kilogram, telur harga normal 20.000 rupiah per kilogram dijual 18.600 rupiah per kilogram.
Penjabat walikota pekalongan, Prijo Anggoro  BR mengatakan bahwa rakyat pekalongan berhak menikmati pasar murah tersebut. Dan pihaknya sangat berterima kasih kepada seluruh pihak atas kesuksesan acara tersebut. "ditengah meningkatnya kebutuhan masyarakat menghadapi musim penghujan, pemerintah hadir memberikan solusi kemudahan dalam berbelanja murah," kata Prijo saat membuka acara tersebut.
selain pasar murah, pemerintah kota pekalongan juga gelar lomba mewarnai tingkat kanak-kanak. dalam lomba mewarnai tampak anak-anak mewarnai gembar-gambar yang mengandung tema perikanan, seperti gambar ikan, perahu nelayan dan laut.
"Pengenalan sejak dini atas kejayaan perikanan Kota Pekalongan harus terus ditingkatkan. salah satunya dengan lomba mewarnai ini," kata Sekretaris daerah Dwi Arie Putranto yang berkesempatan membuka lomba mewarnai tersebut.
dalam waktu yang sama, PJ walikota beserta seluruh jajaran SKPD yang lain menyempatkan diri untuk rahatan bersama warga Pekalongan dengan membakar ikan bersama warga. Diakhiri dengan peninjauan masterplan Minapolitan di dalam gedung PPNP Kota Pekalongan. "Rencana kita menuju minapolitan sangat realistis sekali, ini tidak mimpi lho.. mari bersama kita kembalikan kejayaan  maritim kota Pekalongan," pungkas PJ Walikota.(MC/DISKOMINFO/SKDI/MFD)

VIDEO MAPPING MUSEUM BATIK



Penutupan Pekalongan Batik Week 2015
KOTA – Ribuan warga yang memadati kawasan budaya Jetayu, Kota Pekalongan, untuk menghadiri penutupan Pekalongan Batik Week (Pekan Batik Pekalongan) 2015, Senin (3/8) malam dibuat terpukau dengan pertunjukan menarik "Video Mapping" Museum Batik Pekalongan.
Video mapping karya anak bangsa asal Bandung yang tergabung dalam tim Sembilan Matahari itu membuat ribuan pengunjung Pekan Batik 2015 tak beranjak dari depan Museum Batik, sejak petang hingga acara usai malam harinya. Mereka bahkan rela berdesak-desakan sembari mengabadikan momentum langka itu dengan kamera ponsel pintar mereka, dari awal hingga akhir. Sampai pesta kembang api dinyalakan, menutup seluruh rangkaian acara.
Decak kagum berulangkali terlontar dari para warga yang menyaksikan video mapping tersebut. Video mapping yang terselenggara berkat kerja sama Pemkot Pekalongan dan Bank Jateng itu menggambarkan perjalanan Kota Pekalongan dari dulu hingga sekarang.
Video Mapping yang dibuat, dan didesain oleh ‘Sembilan Matahari’ ini, memang mengingatkan warga kota batik pada 2 April 2011 silam. Saat itu, video mapping Museum Batik menampilkan Kota Pekalongan sebagai The World’s City of Batik.
Hampir sama dengan yang ditampilkan pada empat tahun silam. Pada Senin malam kemarin, mulai pukul 21.27 hingga 21.51 atau hampir setengah jam, Museum Batik kembali dipenuhi beragam motif batik, lengkap dengan ilustrasi perjalanan dan kehidupan warga Kota Pekalongan yang dalam kesehariannya tak bisa dilepaskan dari batik. Tak lupa, Kota Pekalongan sebagai kota perikanan juga digambarkan pada menit-menit awal pemutaran video mapping itu.
Bedanya, kemarin, ditampilkan perubahan branding Kota Pekalongan yang sebelumnya The Wor’ld City of Batik menjadi kota kreatif dunia dari Unesco, dan berhak masuk dalam jejaring Kota Kreatif Unesco kategori Kriya dan Seni Rakyat (Unesco Creative Network for The City of Crafts and Folks Art).
Predikat dari Unesco ini diraih Kota Pekalongan pada 1 Desember 2014.
Beragam motif batik Pekalongan, malam itu ditampilkan secara apik melalui video mapping tersebut. Batik sebagai warisan asli budaya Indonesia, yang membuat Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia, dan akhirnya pada tanggal 1 Desember 2014 lalu UNESCO memasukkan Kota Pekalongan sebagai Creative Cities Network di kategori Crafts and Folk Arts berhasil divisualisasikan secara apik oleh tim Sembilan Matahari.
Production Manager Sembilan Matahari, Ali Maarif menjelaskan, bahwa tema yang diangkat itu menggambarkan bahwa Kota Pekalongan dinilai oleh dunia sebagai kota yang benar-benar secara nyata mengembangkan tradisi budaya asli bangsanya, yakni batik, dalam segala lini. “Kota Pekalongan telah secara nyata mengembangkan tradisi budaya bangsa, benar-benar kota batik dunia, dari kurikulum sekolah, jurusan studi batik, bahkan berkembang juga sebuah kawasan seperti Kampung Canting. Kemudian terpilih oleh Unesco sebagai kota kreatif dunia,” paparnya.
Tak cukup hanya video mapping, ribuan warga malam itu juga dihibur dengan pesta kembang api di atas langit kawasan Jetayu. Kembang api itu langsung menghiasi langit di atas Museum Batik, begitu video mapping selesai.
PERPISAHAN BASYIR-ALEX
Acara tersebut juga digunakan sebagai momentum perpisahan pasangan Walikota-Wakil Walikota Pekalongan periode 2010-2015, dr HM Basyir Ahmad dan HA Alf Arslan Djunaid. Didampingi istri masing-masing, mereka membawakan sambutan perpisahan sekaligus ucapan terima kasih kepada warga kota batik. Pasangan Basyir-Alex akan mengakhiri masa tugasnya pada 9 Agustus mendatang.
Hadir pula rombongan BPPT yang dipimpin Deputi Kepala BPPT Dr Tatang Taufik, serta para tamu undangan, baik dari unsur Forkominda setempat, dan tokoh masyarakat. “Video mapping malam ini adalah untuk mengenalkan Kota Pekalongan sebagai jejaring kota kreatif Unesco,” ungkap Basyir dalam sambutannya.
Kami ucapkan beribu terima kasih kepada seluruh masyarakat Kota Pekalongan, kepada seluruh mitra-mitra kami, yang telah bersama-sama membangun Kota Pekalongan, sehingga meraih banyak penghargaan. Ini semua karena bantuan bapak ibu semua, dan pertolongan Allah Ta’ala.
Acara ini juga sebagai tanda ungkapan suka cita kita, tiga acara sekaligus. Memperingati HUT RI ke-70, Pameran Batik yang biasanya kita adakan pada 2 Oktober, serta Pekan Inovasi dalam rangka memperingati Harteknas,” ungkap Basyir.
Dia mengatakan, pada Pekan Batik ke-9 dan Harteknas tersebut, Basyir menandaskan bahwa Kota Pekalongan akan terus berinovasi dan berkreasi, terutama dengan basis masyarakat. “Kami ucapkan terima kasih tak terhingga pada Catur Pilar, Ketua LPM, koordinator BKM, Tim Penggerak PKK, dan Karang Taruna tingkat Kota Kecamatan hingga Kelurahan. Serta kepada semua yang telah membantu kami dalam menanggulangi kemiskinan sehingga kita terbaik di Jawa Tengah, angka kemiskinan hanya 8 persen,” urainya.
Basyir juga memohon maaf apabila selama memimpin ada kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. “Kami sudah bekerja, korbankan segalanya, waktu, harta, keluarga, mohon maaf kalau masih belum banyak yang kami lakukan. Mohon doa restu, bahwa kami bisa melaksanakan jabatan kami pada 9 Agustus dengan khusnul khotimah. Mohon doa restu agar kami tetap bisa membantu masyarakat Kota Pekalongan, dengan kapasitas sebagai komunitas. Dan tentu siapapun Walikota ke depan, kami akan membantu dengan sepenuh hati supaya Kota Pekalongan lebih baik lagi,” tandasnya.
Sementara, Wakil Walikota Pekalongan HA Alf Arslan Djunaid juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Kota Pekalongan. Ucapan terima kasih juga disampaikan Alex, sapaan akrabnya, kepada Basyir Ahmad. “Beliau adalah mentor, guru saya, yang telah membimbing saya selama lima tahun, alhamdulillah tidak ada satupun perselisihan-perselisihan,” ungkapnya.
Terima kasih kepada seluruh anggota DPRD. Lalu terima kasih Catur Pilar, yang selalu mengawal kebijakan pemkot Pekalongan, sehingga yang menjadi kebutuhan masyarakat, atau dikenal dengan konsep masyarakat madani, partisipasi masyarakat, bahasa Jawanya adalah brayan urip, bisa diejawantahkan dalam pemerintahan Kota Pekalongan selama tahun 2010-2015. Atas nama pribadi, kami juga mohon maaf, karena kami hanya manusia biasa,” imbuh Alex.
Alex pun berharap, ke depan, siapapun Walikotanya harus didukung. Karena, ungkap dia, Kota Pekalongan ke depannya masih banyak program yang harus dilakukan. “Ada program-program yang tentu harus dilanjutkan oleh pemerintahan yang akan datang,” pungkas Alex. (way)

(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 05-08-2015)

Festival Kostum Karnaval Batik 2015
















































Add caption

Popular Posts